Tuesday, April 19, 2011

robohkan benteng itu

Kudongak ke atas
memandang sayu tembok tinggi yang membelenggu diriku
saat itu
kudratku bagaikan disentap
sayapku seperti hilang pedoman
butir demi butir cecair jernih mengalir
aku tidak mahu kalah!


Kulihat ke kiri dan ke kanan
mengharapkan ada keajaiban datang menerpa
kusoroti kedua mataku
memandang tanah yang semakin menipis
semakin kupandang rumput yang layu
semakin pedih hatiku merintih
aku ingin keluar dari semua ini!


Dari kejauhan
mataku tertancap pada satu susuk 
mataku bersinar
kakiku mengorak langkah
jasadku umpama mendapat jiwa yang baru
nantikan daku wahai engkau di sana
kerana kupasti
kaulah yang bakal memimpin tanganku
merobohkan benteng yang ada di hadapan.


syukur

0 comments: